Gonjang-ganjing BBM for All yang merebak beberapa minggu yang lalu boleh jadi salah satu blunder paling fatal dari Blackberry. Kegagalan launching BBM for All semakin menegaskan bahwa Blackberry sudah berada di titik nadir. Sebelum ini, Blackberry sebenarnya telah beberapa kali melakukan blunder yang menyebabkan perusahaan asal Kanada ini mengalami kemunduran. BlackBerry sebelumnya pernah berjaya dalam industri smartphone. Pada masa keemasannya di tahun 2007 dan 2008, perusahaan ini bernilai USD 84 miliar. Produk-produknya pun digemari banyak orang.

Manajemen BlackBerry telah setuju untuk dibeli senilai USD 4,7 miliar atau Rp 54 triliun oleh sebuah konsorsium yang dipimpin Fairfax Financial Holding Limited.

Berikut ini adalah 5 blunder Blackberry yang oleh para pengamat dianggap paling fatal sehingga menyebabkan nilai saham perusahaan asal Kanada itu menurun drastis.

1. Meremehkan Kehadiran iPhone

Mike Lazaridis dan Jim Balsillie yang adalah mantan co CEO BlackBerry, perusahaan yang sebelumnya bernama Research in Motion (RIM), meremehkan kedatangan Apple iPhone di tahun 2007.

Keduanya menilai iPhone seperti ponsel mainan. Baterainya dinilai lemah dan keyboard layar sentuh iPhone susah digunakan dibandingkan keyboard fisik di BlackBerry.

"Sebagus apapun iPhone, ia menghadirkan kesulitan bagi penggunanya. Cobalah mengetik di layar sentuh iPhone, itulah kesulitan yang nyata," kata Balsillie.

Namun perlahan tapi pasti, iPhone mengubah industri smartphone. Layar sentuhnya yang responsif dan besar, browser dan pemutar musik yang bagus, membuatnya menjadi favorit.

BlackBerry dinilai terlambat mengantisipasi tantangan yang dihadirkan iPhone. Pangsa pasar mereka pun tergerus oleh handset jagoan Apple ini.

2. Kalah bersaing dengan Android

Ponsel Android pertama, HTC Dream, rilis tahun 2008. Pada waktu itu, belum banyak yang menganggapnya sebagai pesaing berarti di jagat smartphone dunia, termasuk BlackBerry.

Pemimpin BlackBerry gagal melihat visi Google dan juga Apple bahwa ponsel tidak hanya semata alat komunikasi, namun akan menjadi pusat entertainment dan didukung aplikasi bagus.

"Tren di dunia mobile yang paling menarik adalah keyboard full qwerty," demikian salah satu kengototan Lazaridis yang menilai BlackBerry akan tetap lebih unggul dari iPhone maupun Android.

Kenyataan berkata lain. Pangsa pasar BlackBerry terus tergerus dan Android menjadi sistem operasi ponsel terpopuler di dunia.

Upaya BlackBerry menghadirkan handset layar sentuh dengan nama Storm berbuah kegagalan. Sebab, layar sentuhnya kurang responsif dan BlackBerry terkesan setengah setengah membuatnya karena masih fokus pada handset dengan keyboard fisik.

3. Gagalnya Blackberry Playbook

Ketika tablet PC BlackBerry PlayBook rilis pada tahun 2010, cukup banyak yang menilai ia akan sukses. Saat itu, BlackBerry masih kuat posisinya.

Sayangnya, BlackBerry PlayBook tidak terlalu laris, banyak stok produk ini menumpuk di gudang. Padahal, BlackBerry mengerahkan banyak sumber daya untuk membuat PlayBook.

Padahal pada waktu itu, penjualan handset BlackBerry mulai terancam. Namun karena terlalu fokus mengembangkan PlayBook, maka divisi handset agak terabaikan.

Jika saja pada saat itu, BlackBerry tidak terlalu mati-matian mengembangkan PlayBook dan fokus membuat sistem operasi BlackBerry 10 untuk smartphone, boleh jadi mereka memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Sistem operasi BlackBerry 10 yang berbasis QNX sejatinya banyak dipuji. Namun sayangnya, ia datang sangat terlambat ketika iPhone dan Android sangat berjaya.

4. Kurang Respon terhadap Kehadiran BYOD

BlackBerry awalnya adalah idaman di pasar enterprise. Keyboard yang nyaman dan jaringan BlackBerry Enterpise Server membuat solusi komunikasi enterprise dari BlackBerry adalah pilihan utama bagi banyak perusahaan.

Sayangnya, BlackBerry terlena. Belakangan, banyak perusahaan mengikuti kebijakan BYOD alias Bring Your Own Devices. Artinya, karyawan diperbolehkan membawa smartphone pilihannya sendiri.

Nah rupanya, banyak karyawan yang lebih memilih memakai iPhone atau Android dibandingkan BlackBery. Salah satu faktornya, iPhone dan Android dinilai lebih menyenangkan dibanding menggunakan BlackBerry.

Akibatnya, kian banyak perusaahaan yang meninggalkan BlackBerry. Terlebih, vendor Android ataupun iPhone menghadirkan solusi sekuriti yang cukup mumpuni.

5. Launching Lambat OS BlackBerry 10

BlackBerry akhirnya menyadari tidak akan dapat bertahan jika terus mengandalkan ponsel dengan OS lama. Akhirnya, mereka mengembangkan sistem operasi BlackBerry 10 untuk smartphone.

BlackBerry 10 yang berbasis QNX sebenarnya cukup bagus. OS ini dirancang bekerja tanpa kehadiran tombol fisik, cukup digeser-geser saja.

Awalnya, ponsel BlackBerry 10 direncanakan rilis pada tahun 2011, namun kemudian ditunda sampai tahun 2012. Masih ditunda lagi sampai akhirnya BlackBerry Z10 rilis awal Januari 2013.

Meski menghadirkan berbagai fitur baru, nyatanya ponsel BlackBerry 10 kurang laris di pasaran. BlackBerry Z10 kabarnya banyak yang menumpuk di gudang.

Banyak pihak menilai, jika saja ponsel BlackBerry 10 dirilis jauh-jauh hari, masih ada potensi bagi BlackBerry melawan dominasi Android dan iPhone.