Solved! Misteri Patung Moai di Easter Island!

Patung Moai di Easter Island atau Pulau Paskah adalah salah satu keajaiban megalitikum yang menggelitik banyak peneliti untuk memecahkan misteri: bagaimana caranya manusia jaman dulu menempatkan patung yang beratnya berton-ton ke pelbagai penjuru pulau?

Bagi yang belum mengetahui apa itu Patung Moai, berikut penjelasan singkatnya dari Wikipedia:
Moai are monolithic human figures carved by the Rapa Nui people from rock on the Chilean Polynesian island of Easter Island between the years 1250 and 1500. Nearly half are still at Rano Raraku, the main moai quarry, but hundreds were transported from there and set on stone platforms called ahu around the island's perimeter. Almost all moai have overly large heads three-eighths the size of the whole statue. The moai are chiefly the living faces (aringa ora) of deified ancestors (aringa ora ata tepuna). The statues still gazed inland across their clan lands when Europeans first visited the island, but most were cast down during later conflicts between clans. 
The production and transportation of the 887 statues are considered remarkable creative and physical feats.[4] The tallest moai erected, called Paro, was almost 10 metres (33 ft) high and weighed 82 tons;[5] the heaviest erected was a shorter but squatter moai at Ahu Tongariki, weighing 86 tons; and one unfinished sculpture, if completed, would have been approximately 21 metres (69 ft) tall with a weight of about 270 tons. The islanders themselves tore down the standing moai after their civilization broke down.

Penjelasan untuk bahasa Indonesia bisa dilihat disini

Bagi para keturunan penduduk asli Easter Island yang disebut Rapanui, tidak ada misteri disini. Ketika ditanya mengenai hal ini, Suri Tuki, salah seorang pemandu wisata di pulau tersebut, menjawab dengan ringan,"Patung itu berjalan."

Dan memang itulah yang diceritakan turun-temurun lewat tradisi Oral. Disebutkan bahwa seorang raja yang bernama Tu Kuu Lhu membuat patung-patung itu berjalan lewat bantuan dewa Makemake.

Belakangan ini, beberapa ahli telah mengajukan hipotesis terkait misteri patung Moai di Easter Island. Saya mulai dulu dari yang teori yang paling tidak mungkin.

1. Kepala Suku Rapanui adalah pemakan buah iblis!

Yup. Teori ini adalah teori paling gila. Berangkat dari penuturan bahwa patung itu berjalan serta nama suku penduduk asli Easter Island, teori Buah Iblis diangkat. Buah Iblis adalah buah yang apabila dimakan, seseorang akan mendapatkan kekuatan dari Iblis tertentu. Dalam hal ini, Kepala Suku Rapanui memakan buah iblis make make no mi. Pemakan buah iblis ini mendapatkan kekuatan semacam telekinesis untuk mengendalikan batu.

Dasar teori ini adalah, nama suku Rapanui itu sendiri. Rapanui adalah salah satu nama tokoh dalam serial anime One Piece pada episode. Selain itu, nama dewa Makemake mengingatkan kita pada model penyebutan buah Iblis itu sendiri yang menggunakan pola pengulangan. Misalnya: Gomu-Gomu No Mi (Iblis Karet), Hana-Hana No Mi (Iblis Bunga), Jake-Jake No Mi (Iblis Jaket), dan sebagainya.

Kelemahan teori ini adalah, legenda buah iblis dimulai oleh Eiichiro Oda dalam serial manga One Piece pada tahun 2002. Dan itu hanyalah manga. Hahahaha. Maaf, ini hanya teori konyol yang tiba-tiba terlintas saat saya mau menulis artikel ini.

2. Patung itu memang berjalan!

Yup. Teori ini memang aneh, namun tidak lebih aneh (dan konyol) dari teori pertama. Kali ini serius. Ga becanda lagi. Beberapa peneliti telah dengan serius melakukan ujicoba membuat patung Moai ini berjalan. Dan tebak: Mereka Berhasil!



Mereka adalah Terry Hunt dari University of Hawaii dan Carl Lipo dari California State University yang bekerjasama dengan Sergio Rapu, seorang arkeolog yang juga mantan gubernur Easter island.

Awalnya, mereka melihat kalau patung-patung tersebut memiliki bentuk perut yang gemuk sehingga bisa dicondongkan ke depan dengan mudah. Selain itu, bentuk dasar patung yang berbentuk huruf "D" juga memudahkannya untuk digiring ke seluruh pulau.

Pada percobaan ini, sebuah patung dengan tinggi 3 meter dan berat 5 ton dibuat berjalan dengan bantuan tali dan 18 orang.

Masih ga percaya? Ini videonya




Keren Kan?

Walau teori ini belum tentu benar, setidaknya kita bisa berasumsi dari percobaan di atas, bahwa peradaban di masa lalu sebenarnya menggunakan teknologi sederhana. Dan dengan kesederhanaan teknologi itu, mereka bahkan bisa membuat takjub orang-orang yang hidup sekian ratus tahun sesudah mereka. Bahkan ketika orang-orang ini menyebut orang jaman dulu dengan sebutan primitif!